Apakah Blog ini cukup bermanfaat bagi Anda? Silahkan Follow blog ini lewat media social, terima kasih ^^

Permainan Tradisional Mopepeku

A. Sejarah
Mopepeku merupakan permainan anak yang dimainkan pada waktu senggang. Mopepeku Berasal dari kata Pepeku yang dalam daerahnya tidak mengandung makna, jadi asal saja disebut tanpa ada arti tertentu.
Permaianan ini terutama merupakan pengisi waktu anak-anak dalam berbagai kesempatan. kalau dilihat dari sifat permaianan ini merupakan rekreasi dan juga ada unsur kompetitifnya. Bila dilihat dari fungsinya dalam pergaulan sehari-hari maka pelaksanaan permainan ini tidak terikat oleh peristiwa sosial tertentu.
Mopepeku biasanya dimainkan oleh anak-anak dari semua kelompok sosial yang ada dalam masyarakat pendukungnya, dan penyelenggaraan permainan ini dapat dilaksanakan disemua tempat. Baik dirumah maupun dihalaman asalkan saja ada tempat untuk dapat menyembunyikan diri. Karena permainan ini diikuti oleh beberapa orang anak yang lainya bersembunyi, dan salah seorang diantaranya yang akan mencari kawan-kawannya. Permainan ini merupakan permainan musiman karena tidak dimainkan sepajang tahun. Biasanya hanya berlaku selama 4 bulan kemudian diganti lagi dengan jenis permainan lainnya. Adapun yang menjadi peserta dalam permainan initerbatas pada anak-anak yang berumur sekitar 6 s/d 13 tahun dan diikuti oleh laki-laki dan wanita. Permainan ini juga tidak mengenal waktu asal saja ada waktu senggang mereka seperti pada waktu jam istirahat disekolah ataupun sore hari dan malam hari dirumah, pokoknya mereka berkumpul dimana saja asal ada 5 anak sudah dapat melaksanakan permainan ini.

B. Pelaksana Permainan
Jumlah pemain tidak ditentukan berapa banyak, berapa saja anak yang terkumpul, contoh sekitar 5 s/d 20 orang mereka dapat lansung melaksanakan permainan ini. Dan para pemain biasanya campuran terdiri dari anak pria dan wanita, dapat pula wanita semuanya ataupun pria semuanya. Usia anak-anak yang bermain biasa turut serta dalam permainan ini antara 6 s/d 13 tahun.

C. Peralatan/Perlengkapan Permainan
 Dalam permainan ini tidak menggunakan alat-alat selaindari pada tempat yang mereka biasa pergunakan sebagai tempat bersembunyi, ump. Bila mereka bermain dirumah, tempat-tempat biasanya mereka gunakan untuk bersembunyi, belakang kursi, dibelakang pintu, di kolong meja, dan ditempat mana saja yang mereka dapat gunakan sebagai tempat bersembunyi.

D. Cara Bermain
Pertama-tama semua yang akan ikut bermain berkumpul, kemudian menunjuk salah seorang diantaranya yang akan bertindak sebagai wasit, menentukan siapa yang akan bertindak sebagai wasit, menetukan siapa yang akan tutup mata kemudian mencari teman-temannya yang sedang bersembunyi.
Mula-mula yang bertindak sebagai wasit akan mengangkat tangannya. Setelah itu telapak tangannyadibuka menghadap kebawah dan teman-teman lainnyadatang melekatkan telunjuk pada telapak tangannya. Sesudah itu mereka akan mengucapkan dua kalimat yang diucapkan bersama-sama dan pada bagian akhir kalimat yang bertindak sebagai wasit ini langsung menggegamkan tangannya untuk menangkap jari-jari kawannya.
Dua kalimat yang mereka ucapkan bersama-sama berbunyi : Pepeku-pepeku kon Sangede (tidak punya arti). Kuene kodomokan sia in bilagon (siapa yang tertangkap dia yang tutup mata)
Barang siapa yang terlambat menarik jarinya sudah dapat dipastikan dialah yang tertangkap. Siapa yang tertangkap jarinya akan melakukan tutup mata sementara teman-teman yang lainnya bersembunyi. Apabila teman-temnanya sudah ada yang berteriak tandanya dia sudah dapat melakukan pencarian terhadap teman-temannya. Tetapi syaratnya bila mereka bermain dirumah ruang gerak untuk bersembunyi terbatas dilingkungan rumah. Demikian pula halnya apabila dihalaman terbatas pada bagian halaman tidak boleh bersembuyi ditempat yang jauh dari lingkungan tempat mereka bermain. Pada saat dilakukan pencaharian dan ada salah seorang diantaranya yang sempat terlihat yang sedang melakukan pencaharian itu, akan berteriak ”Tur” tandanya sudah tertangkapdan mereka yang belum sempat terlihat akan berlari secepatnya ke tempat yang sudah mereka sepakati bersama, apabila mereka sudah berada disitu dan berteriak-teriak : ”Blangko” tidak dapat ditur atau ditangkap lagi. Barang siapa yang sempat ditur (ditangkap) dialah yang akan mengantikan kawannya untuk melakukan tutup mata kemudian mencari kawan-kawannya yang sedang bersembunyi.



Tetapi jika tadinya ada beberapa yang sempat ditur atau tertangkap mereka ini akan melakukan sutten  dan siapa yang kalah dialah yang akan mencari teman-temannya. Kecuali bila tidak ada sama sekaliyang tertangkap terpaksa dialah yang akan kembali melakukan pekerjaan ini. Demikianlah seterusnya permainan ini berlangsung sampai mereka bersama-sama bersepakat terhenti bermain.

E. Perkembangan 
Ditinjau dari bentuk permainan maka permainan Mopepeku mengandung unsur-unsur rekreasi dimana anak-anak bisa bersukaria, juga ada unsur kompetisinya sebab mereka harus cerdik supaya dapat memenangkan permainan. Selain itu pula ada unsur pendidikannya yaitu menanamkan sifat kejujuran dan sportifitas kepada anak-anak supaya jangan berlaku curang dan selalu harus mengakui keungulan lawan.
Sambil bermain mereka juga sudah melakukan olah raga yaitu pembinaan fisik dengan berlari-lari. Hingga kini permainan ini masih digemari oleh anak-anak karena pada waktu musimnya permainan ini anak-anak masih melakukannya.

F. Opini
Meskipun permainan ini tidak semeriah lagi seperti pada zaman yang lampau, namun masih tetap berkembang dan dimainkan oleh anak-anak. Hal ini masih perlu dipertahankan karena dalamnya tercakup beberapa hal yang sangat penting dan bermanfaat bagi pembinaan mental maupun fisik dari pada anak-anak. Selain itu juga permainan ini tidak membutuhkan biaya dan tidak merepotkan. 

Dibalik Misteri Petualangan Lumimuut : Dunia Dalam Mitos Minahasa

Dalam perjalannya, Lumimuut tidak diperbolehkan menoleh kebelakang, untuk tidak mengundang roh-roh jahat yang dapat membawa bahaya bagi dirinya; kecuali apabila ia sedang menghentikan perjalanannya. Disaat ia berada dalam keadaan istirahat itu, Lumimuut diharuskan selalu meletakan batang pohon Tawa’ang tersebut diatas tanah untuk tak kehilangan kemana arah nanti melanjutkan perjalanan.
Perjalanan Lumimuut, umumnya telah dibimbing sebelumnya oleh petunjuk dan nasehat Karema. Dari gambaran pribadi yang religius Lumimuut, Karema berharap ia akan tetap memahami kewajiban itu pada sepanjang petualangan.

Lukikuut banyak belajar dari Karema mengenai hidup. Ia mendapat pengalaman dan berbagai pengetahuan baru yang tak umumnya pernah dialaminya, termasuk hal penting mengenal kehidupan rimba raya dan keganasan hutan. Selain itu bagaimana pula ia telah diajarkan ilmu bela diri dari  bagian ilmu pedang Karema, yang hasil tujuanya akan sangat berguna mengusir ganguan binatang buas, dan untuk mengatasi berbagai hal di saat ia sendirian mengalami kesulitan di tengah hutan belantara. Marah bahaya inilah yang telah membuat Karema kuatir melepaskan kepergian Lumimuut ke dalam petualangan yang sangat membahayakannya, tapi ia harus mengatakan dan menyuruhnya demikian walau secara terpaksa. Selain Karema Lumimuut adalah seorang anak pemberani dan sangat berhati-hati, iapun merupakan anak yang patuh dan pasti akan selalu konsekuen terhadap perintah dan petunjuk-petunjuk Karema.

Setelah perpisahan, tak ada lagi pertambahan istilah dalam rekayasa bahasa yang mereka ciptakan. Pulhan bulan mereka ucapkan bersama, adalah waktu yang cukup untuk tidak mudah melupakan begitu saja kata yang telah disampaikan dengan resmi. Maksud perubahan perkataan mereka itu adalah salah satu cara menyatakan bahwa karema ingin membangun dunia baru tanpa ada kisah masa silam. Seiring bersamaan dengan sebuah warna baru dalam langkah perjalanan yang telah dirintisnya.

Baju dari tenunan sutra yang telah rusak terkoyak yang ia gantikan dengan serat kulit kayu dan dedaunan, waktu itu telah menjadi sumber ilham yang akan mengungkit satu arti yang sangat penting dikemudian hari tapi jika kelak Lumimuut melahirkan seorang anak laki-laki. 

Oleh perbuatannya yang sama sekali tidak disengaja (dengan mengganti pakaian sutranya) itu, ternyata telah menentukan arti yang sangat dalam pada perkembangan kelanjutan generasinya. Dengan itu, sebenarnya yang telah menimbulkan pemikiran baru dan menjadi sumber ia telah kehilangan identitas. Terpikir olehnya, ada baiknya untuk seterusnya tidak membeberkan masa lampaunya, ketika memang ternyata kehidupanya yang sesungguhnya akhirnya sama sekali tidak diketahui oleh Lumimuut; ia bahkan akan dianggap manusia gaib yang diutus untuk melindungi Lumimuut. 

Baginya ada alternatif lain untuk mengetengahkan kisah hidupnya, yaitu jikalau nanti yang lahir seorang anak perempuan. Yang menjadi alasan mengapa niatnya akan terus menutupi latar belakang kehidupanya yang jadi misteri itu, adalah karena bukan seorang bayi perempuan yang lahir, tetapi karena dari kandungan Lumimuut lahir anak “laki-laki“. Dalam hal ini bukanlah kesalahan Lumimuut kalau Karema akan terus dianggap “jelmaan” atau semacamnya. Dan ia tidak merasa aneh  mengetahui Lumimuut tidak menganggapnya sebagai sosok manusia biasa; selain oleh penampilannya, kemunculannya juga dianggap secara tiba-tiba seperti kegaiban bayangan mata dewa, yaitu waktu ketika Lumimuut siuman dari pingsan yang panjang dan menyaksikan sosok yang ada di depannya: Bahwa dari kejadian inilah yanng telah mengilhami langkah baru untuk Karema mulai menata kehidupan mereka. Tanpa disengaja? Hanya Karema saja yang mengetahui. 
Karena Lumimuut tak pernah sadarkan diri dalam beberapa saat yang sepanjang, kehadiran Karema wakti itu tak pernah diketahui oleh Lumimuut, dan baru siuman ketika mereka telah terdampar ditepian pantai –pantai Amurang-. Di tepian itupun Lumimuut telah sadarkan diri sesaat setelah Karema memasuki hutan dan kembali dengan pakaian kulit dan dedaunan yang telah membuat ia tampil beda dari keadaan sebelumnya. Yang memang kehadiran Karema di “ Rakit” Lumimuut yang yang tak pernah siuman hingga terdampar, telah menjadi dasar kuat mengapa ia tak pernah diketahui Lumimuut. Berkat penampilannya ini, kelak akan semua berlangsung dan terselubung kepada, bahkan sampai di masa kemudian anak cucu Lumimuut. 

Ia akan terus merahasiakan dirinya, untuk itu Lumimuut diajak harus bersumpah didepannya, oleh sumpah itu mungki segala sesuatu dari hasrat dan pikirannya akan terus berjalan dengan baik dan berlanjut. Sebenarnya dia merasa terus menyaksikan seolah ada kekuatan tak terlihat mengantarkannya kesuatu maksud lewat berbagai kejadian, yang bukan berasal dari kesengajaannya. Semua hal yang terjadi, sangat seimbang dengan apa yang dikehendakinya. Bagi Karema, rahasia dirinya mempunyai maksud dan tujuan tertentu yang sekarang tersimpan di dalam pikirannya untuk hari-hari yang akan datang; adalah lebih baik daripada tak berbuat apa-apa yang segala sesuatu menyangkut hasrat kelangsungannya.

Ikatan Sumpah : Dunia Dalam Mitos Minahasa

Barulah sembilan purnama kemudian, setelah bayi lepas dari susunya, maka malam itu Karema mengajak Lumimuut sengaja ketempat dimana mereka pernah menancapkan pohon Tawa’ang sebagai saksi bisu sumpahnya, tanpa bicara ia telah mengingatkan Lumimuut akan hal itu. Seraya dengan penuh keyakinan Karema menanti datangnya suara burung yang akan dijadikannya pertanda menyuarakan bunyi sekitar hutan disitu, maka tibalah saat harus memisahkan Lumimuut dengan anaknya dan bukanlah untuk menamai bayi tersebut. Mau atau tidak Lumimuut harus menuruti apapun perintah sesuai janji dalam perkataan sumpah yang pernah

diikrar saat perpisahan yang terjadi pada malam itu. Lumimuut masih belum juga mengetahui nama anaknya, yang mendasari perpisahan mereka adalah harapanya, bahwa dalam waktu singkat di antara mereka akan ada pertemuan kembali sesudah mendapatkan seorang pria pendamping.

Sebagai wanita yang masih sangat mudah wajar bila lumimuut merasa patut didampingi oleh seorang suami sekalipun terpisah dari anaknya, akan dicariseorang pria sebagaimana petunjuk Karema, ia masih mempunyai kesempatan panjang menjalani masa depan yang membentang luas kelak bersama anaknya. Karema hanya menunggu sejauh apa perkembangan yang akan terjadi nanti dengan Lumimuut.

Lumimuut sengaja diajak bersumpah untuk merahasiakan kehidupan Karema, dan tidak boleh sekalipun mengatakan, biarpun kepada pasangan atau seseorang yang telah menjadi pendamping hidupnya. Andai tentang hidupnya itu diceritakan sengaja atau tidak sengaja dengan sumpah itu Lumimuut akan ditimpa malapetaka.“Karema mengingatkan supaya Lumimuut menganggap dirinya pernah hidup dengan siapapun dan tanpa masa lalu. Mungkin ia perlu mengaku saja bahwa ia peluh yang keluar dari batu karang“.

Pohon Tawa’ang menjadi simbol sumpah mereka berdua. Karema menancapkan miliknya ke tanah dan Lumimuut harus terus membawa batang pohon tersebut sebelum ia ditemukan oleh atau menemukan seorang Pria. Bahwa dari pohon Tawa’ang itu pula ia akan dikenal oleh bakal suaminya, batangnya akan terus bertumbuh dalam sepanjang pengembaraannya. Sebaliknya dikatakan, Lumimuut akan mengenal suaminya dari pohon yang sama namun ukuranya akan lebih pendek dari batang pohon yang ada ditangannya.

Menapak Dunia Baru : Dunia Dalam Mitos Minahasa

Sementara dari tempat tersembunyi, saat kemarahan Baginda itu terus memecah suasana, Wanita Tua Mongol yang menyaksikan kepahitan itu, tak sempat melihat sepenuhnya berlangsungnya hukuman terhadap cucunya. Ia langsung berpikir dan mengalihkan perhatian ketika mengetahui di tubuh putri terkandung apa yang dapat disebutnya Janin Penerus, Janin daripada cucunya, yaitu setelah ia tadi mendengar dari pengakuan Putri. Karena mungkin saja berarti mata rantainya yang hilang mendapat harapan untuk bertumbuh kembali.

Karena tak mungkin cucunya dapat diselamatkan lagi, wanita tua tersebut  lalu menghindar dari tempat itu selain karena ia telah mendengar Putri tak jadi di hukum pancung; Ia dibiarkan untuk terus hidup. Ditinggalkannya juga tempat itu karena  tak ingin melihat apa yang akan terjadi dengan pemuda. Sang cucu masih sempat terkesan di hatinya ketika ia melihat permaisuri sangat berdaya upaya melindungi Putrinya, hal itu sangat dihargainya. Dan ia akan melakukan niat yang sama. Janin didalam kandungan anak Raja tersebut terdapat darah yang berhubungan erat dengan dirinya. Wanita Tua inilah saksi dari seluruh kisah tragedi nahas, dalam pentas suatu drama yang sukses namun yang terhapus alur ceritanya dari sejarah Tiongwan.
Sendirian ia menyusun jejaran kayuan bambu jadi rakitnya, yang dipersiapkan sebagai sarana jika nanti perempuan hukuman itu sudah dihanyutkan ke sungai Maksudnya untuk menyelamatkan Putri bila sudah lepas dari pengamatan para pengantarnya atau entah mungkin lebih aman saat rakit putri telah lepas dari muara Hong Ho, tingal tergantung situasi

dan keadaan yang ada. Orang tua ini tak peduli lagi dengan kesukaran yang akan dihadapinya, yang penting ia harus bertemu dan melindungi Putri. Sementara itu ia berangan untuk membawa putri ke Mongol. Disana akan lebih aman apapun yang akan terjadi.

Dari sungai Hoang Ho, kini tak diketahui kemana arah anngin dan arus gelombang yang sedang membawanya, dan ia tak melihat adanya rakit lain. Penglihatanya tiada henti menerawang di tengah hamparan kosong selain riak kecil di ijung gunung-gunung gelombang. Pikiran terpusat pada pencarian, dalam setiap degup jantungnya ada doa dan mohon yang tak henti-henti untuk mengatasi kengerian terhadap jika mungkin kegagalan harus di hadapinya sebagai takdir khalik kepadanya. Tapi ia akan tetap berusaha sekuat kemampuan sebagai manusia cciptaan-Nya.

Oleh usahanya itu, tak lagi diketahui sudah seberapa jauh kini jarak rakitnya dari daratan. Ia telah terhempas jauh dari dari daratan, berada di tengah padang laut yang telah memakan waktu berhari-hari dan kian menelannya dengan ganas. Terasa olehnya dahaga yang amat sangat dan sengatan rasa lapar yang kian melilit, menyakiti lambungnya. Tubuh dan mata mulai nanar dibawah bara matahari dan bulan yang selalu meneropongnya. Bibirnya bergetar dan mengelupas tak lagi sedapatnya mendorong tangan mengayuh rakit. Sedang memaksa ia pasrah dan membuatnya tak bisa lagi meneriakan perjalananya, selain nasibnya hanya ia serahkan dengan yakin kehadapan Yang Maha Kuasa.

Badai gelombang hampir menguras seluruh kekuatan bertahanya. Awan hitam, hujan dan gelegar halilintar semakin menutupi pandangan mata yang membua dirinya tak kuat lagi. Hati yang tegar hampir nyaris pupus oleh putus harap dan rasa gusar.

Saat disana ia pasrah menanti datangnya ajal, di bawah langit kelam ditengah serangan badai, tiba-tiba rakitnya terbentur karang. Tetapi ia sangat terkejut, waktu menyadari yang di bentur itu bukan onggokan karang tetapi dengan sesama rakit. Didalamnya ternyata didapatinya sesosok putri, namun dengan tubuh tak berdaya dan tak sadarkan diri. Tak nampak lagi bekal tersisa yang mungkin dapat di makannya untuk menambah sedikit kuat tubuhnya yang dalam keadaan yang sangat lemah. Dalam situasi yang berbahaya seperti ini, ia sempat berusaha mengikat semua tali rakit ketubuh putri dan juga dirinya, terutama untuk mengamankan keselamatan putri sebelum pula ia kehilangan kesadaranya sendiri. Apapun yang dapat terjadi nanti, urusan kini hanya ia gantungkan kepada Yang Kuasa. Ia lulus menerima dan menjalankan takdir yang akan menghentar nasib ke garis perjalanan sejati berikutnya.

Tapi lagi diketahui, sejauh mana Dia dan Putri terbawa arus bersama rakit, dan entah pula telah beberapa lama mereka berada dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Setelah siuman perempuan Tua itu insaf ia telah terdampar disuatu daratan, ia juga legah melihat tubuh putri ternyata ikut terdampar bersama dengan dia berkat tali rakit yang tadinya sempat ia ikatkan ke tubuh. Dan lebih gembira lagi masih ada tanda-tanda kelangsungan terasa dari denyut nadi kehidupan di tubuh sang putri yang perlu diangkat salut ketabahannya.

Setelah dengan pasti mengetahui keberadaan putri, Wanita Tua itu sebentar masuk kedalam hutan mencari apa yang bisa di makan. Disana sekaligus baju usangnya yang penuh sobek, digantinya dengan serat kulit kayu dan dedaunan penutup tubuh seadanya. Sesampainya ia di pantai, barulah disadari bahwa kini ia telahtampil beda. Dari sinilah awal ilham yang membawa seolah ia dilahirkan kembali  dalam identitas baru. Alam bagai menyepuh dan telah menatanya untuk berhadapan dengan sejarah baru. Apapun dikehendaki keadaan terhadap dirinya, itulah yang terbaik.

Oleh satu keyakinan ia bangkit dengan benang-benang keluhuran yang akan merajut cita-citanya. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang tak ia pahami sedang mengatur dan mempersiapkan jalan hidup mereka berdua, dengan diawali oleh kepercayaan terhadap pertanda yang sangat baik.

Putri yang sudah dalam keadaan siuman penuh, terhenyak ketakutan melihat kehadiran perempuan Tua yang tak dikenal dan asinig itu. Tapi dengan perlakuan ramah dan penuh welas asih membuat putri percaya dan membiarkan saja tubuhnya yang memang tak berdaya itu diturun ke arah hutan ketempat lebih terlindung.
Bambu-bambu rakit yang bertebaran ditepian dan ada diatas karang-karang kecil, nampak mulai tumbuh. Bukan tumbuh secepat itu, tapi memang mulai bertumbuh sejak beberapa waktu yang lalu saat mereka berombang ambing di tengah samudera.

Dari tmbuhnya bambu-bambu rakit tersebut, bearti ia dapat mengambil kesimpulan; sudah berapa lama mereka sejak lepas dari sungai Hoang ho. Walau tak dapat ia pastikan sejauh mana pula daerah terdamparnya dengan tempat muasal. Sekaligus pertumbuhan itu, merupakan pertanda yang sangat istimewa bahwa mungkin begitu pula akan tumbuh tunas-tunas untuk kehidupan mata rantainya.
Bambu-bambu rakit tadi bukan saja hanya tumbuh di atas daratan, tapi juga menyesuaikan diatas karang-karang yang banyak diterpa gelombang dan bahkan akar-akarnya membuat karang dapat menyatu dengan dan menjadi daratan, menghilangnya antara yang dibatasi laut

(di zaman-zaman akan datang, terlihat tunas-tunas bambu itu telah tumbuh subur diperbagai pelosok kawasan, dan itu yang kelak suatu gambaran bagai tunas-tunas generasi yang diyakini bertumbuh dan menyesuaikan di berbagai tempat hidupnya sendiri, dimanapun dan kapanpun. Pohon itu hingga kini diramalkan. Dapat hidup dan menghidupkan siapapun. Menurut kepercayaan dan keturunannya dikemudian hari, bila bambu itu dipotong tidak melalui suatu syarat kecil, manfaatnya akan akan dimakan ngengat, demikian sebaliknya bila mengikuti petunjuk Orang tua yang mengetahui mengenal syaratnya. Dari rakit merekalah kemudian di kawasan ini tumbuh dan bertebar berbagai jenis bambu).

Selanjutnya kedua wanita itu sepakat hidup bersama, Putri heran mendengar perkatan perempuan asing itu mengetahui kisah dan seluruh keberadaan nya. Dengan itu justru putri menilai bahwa rupanya orang asing ini adalah seorang wanita sakti. Dia bahkan berjanji untuk merawat putri hingga melahirkan bayi yang ada dalam kandungan.

Sebaliknya Wanita Tua itu mulai timbul dalam pikiranya secara spontan; Untuk tak membeberkan kisah hidupnya, sehingga untuk itu dan mulai pada saat itu ia jadi tabir rahasia yang penuh misteri bagi sang putri, dan tirai penutup itu bukanlah sebuah masalah bagi Putri. Diam-diam beranggap dia adalah sesosok Tahyul yang menjelma manusia, Wanita tua seolah itu berasal dari kegaiban yang dari keyakinannya telah di utus oleh para Dewa untuk menyelamatkannya. Tentu pula oleh keyakinan, dianggap berkat permohonan doa yang tulus dari ibunda dan masyarakat yang mengasihinya.

Menyakini semua hal yang  menyangkut kegaiban itu, putri tak lagi perlu dengan berbagai pertanyaan di dalam benaknya. Ia insaf, dengan keduran seseorang yang mampu bersikap baik kepadanya, merupakan suatu anugrah yang tak terhingga nilainya. Apalagi yang bersama ini adalah jelmaan yang menyatakan  diri langsung. Jadi ia tak perlu takut. Putri juga percaya bahwa ia memang sedang menjalankan takdir Ilahi dibawah satu arus kekuatan yang tak terlihat. Mungkin suatu hari ia dapat bertanya dimana sekarang ia berada. Ia kini merasa telah dilindungi dan ada yang akan dapat membantu dalan banyak hal.
Keduanya langsung merasa sama-sama terikat dalam hubungan yang serupa dengan ibu dan anak. Putri bersumpah:  Bila diperkenankan, ia akan menganggap wanita tersebut sebagai pengganti orang tuanya, ia akan membangkitkan diri sepenuhnya pada nasehat serta “Apapun perintahnya“. Tapi Orang tua itu hanya menegaskan bahwa: Bila yang lahir seorang bayi perempuan, barulah dirinya diabdikan sepenuhnya kepada Orang tua itu, tapi bila yang ahir seorang anak laki-laki dia harus “taat” dan perlutunduk pada perintah, perkatan itupun disetujui putri. Putri tahu bahwa perkataan ini mempunyai makna dan arti yang sangat baik bagi kebaikan dirinya. Bahwa maksud-maksud seorang yang gaib pasti sangat bermakna untuk kehidupan manusia biasa sepertinya.

Hari itu akan pertama kalinya ditempat ini mereka melakukan Upacara karena “sumpah“ yang telah diucapkan tadi. Orang tua itu lalu memilih sebatang pohon (Tawa’ang) kecil dan menancapkan ketanah yang dijadikan saksi serta perlambang sumpah, yang akan tumbuh dan diingat kapanpun dan dimana saja untuk sumpah, itu, kelak mempunyai arti yang sangat dalam pada perjalanan hidup mereka bila tak ada kemungkinan-kemungkinan lain menghambat kesempatan ini.

Dalam hatinya, bahwa kehadrian Perempuan yang nampak sakti, arif dan baik hati boleh jadi merupakan wujud penolong baginya. Tak peduli entah mungkin ia adalah jelmaan atau bentuk serupa peri yang diutus langsung para dewa.
Setelah kekuatan tubuh mereka pulih seperti sediakala, keduanya ingin segera menjauhi pantai menghindari kemungkinan serangan dari laut yang tak diinginkan, lagi pula selain karena memang tempatnya yang kurang dengan makanan.

Mereka menemukan suatu tempat ditengah hutan belantara daerah yang lebih mudah untuk dapat mempertahankan hidup, suatu tempat datar yang banyak terdapat buah dan jenis umbian yang amat menghidupinya.

Putri nampak lebih bergairah dan semangat hidup yang tadinya telah terkulai rapuh, ketika menyadari bahwa ternyata hidup ini mempunyai arti yang sangat penting. Ia merasa penting untuk tidak menyia-nyiakan anugerahNya pada setiap langkah kehidupanya selain itu karena hidup mempunyai dorongan tersendiri saat sadar sepenuhnya, bahwa dia akan menjadi seorang ibu, untuk itu ia kini punya keberanian dengan kesengsaraan, demi untuk mempertahankan kehidupanya yang ternyata mempunyai makna khusus yang tak perlu disesali seperti ia semula nyaris tak tahan menghadapi kegetiran. Sebaliknya sekarang ia tak akan menyia-nyiakan, dan betapa berharganya dia yang telah dilahirkan kedunia.

Putri sangat menyakini kekuatan tertinggi yang tak terlihat selai adanya dewa-dewa. Ia pun menghormati roh-roh leluhur; yang akan tersendiri mendapat tempat pada altar-altar pemujaan, ia dan perempuan Tua itu akan selalu melakukan upacara pada saat bulan purnama seperti tradisi kebiasaan sebelumnya, atau mungkin jika perlu akan dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

Di kawasan ini pula mulanya Putri atau Luming mengalami perubahan namanya menjadi Lumimuut, dan mulai saat ketika inilah juga mereka sepakat mengadakan perubahan kata-katanya dalam bahasanya sehari-hari.
Yakni berangsur sedikit demi sedikit, keduanya saling melontarkan istilah-istilah baru, dan istilah-istilah yang telah mendasari perubahan dalam setiap dalam setiap perkataan mereka, akan menjadi warna tersendiri dalam kurun berjalan; saat ini dan di masa masa datang itulah yang menjadi warna sebagai salah satu milik identitas bakal keturunanya yang berdiri sendiri.

Perkataan yang dilontarkan ini terambil hampir semua dari kesamaan kata-kata aslinya. Selain banyak kata asli yang sebenarnya mendasarinya, istilah kata ini merupakan inofasi dan inisiatif wanita yang kini sudah diangkat menjadi orang tua Lumimuut. Alasan untuk ucapanya itu, menurut orang tua ini berkait erat dengan keselamatan putri, bahwa pembaharuan bahasanya sifatnya merupakan samaran yang akan meng’elakan bahaya pengejaran dari utusan-utusan kerajaan terhadap Putri sekaligus terhadap perisai keselamatan mereka berdua. Perubahan warna bahasanya semata-mata adlah langkah baru dari hasil rekayasa mereka berdua. Keduanya telah melaksanakan perubahan itu dengan santai dan sungguh-sungguh.

Motifasi lainya melalui penciptaan bahasanya, bahwa sebab orang tua ini benar-benar ingin membersihkan Lumimuut dari masa silamnya. Tak ada salahnya pula bila dia berharap akan terbit generasi  baru di dunia yang terpencil dari sejarah dan peradapan bangsa mereka.
Satu kebanggaan baginya mungkin seandainya lahir mata rantai yang baru yang bila berkembang menjadi satu bangsa ternyata berakar dari rahimnya yang akan sesuai dengan bukti silsilah dari latar belakang kehidupanya. Sekarang ia berstatus sebagai orang tua dari Lumimuut, hal ini sangat menentukan suatu perjalanan dan penting artinya pada hari-hari dan hingga pada masa-masa yang akan datang, walau ada beberapa misteri yang tak terkatakan mengenai maksud-maksudnya.

Sebutan Lumimuut tak mempunyai pengertian apa maksudnya dari bahasa asalnya, bahkan tidak ada diantara deretan kata-kata aslinya. Tapi punya arti khusus hanya untuk mereka berdua saja. Namun itu rupanya hanyalah sebuah simbol istilah dari yang hampir disamakan dengan sebutan nama sebelumnya, bahwa istilah itu bisa digambarkannya “Seperti peluh yang berasal dari batu karang”.
Karang adalah simbol yang mendasari nama itu, dan batu karang adalah simbol kekuatan, ketegaran yang tak mudah tergoyah oleh badai dan gelombang laut. Lumimuut penuh ditaburi kisah pengalaman hidup yang dijalaninya, karena ia adalah putri istana, mungkin tak akan sesuai dengan nilai pengalaman yang amat buruk dan pahit. Tapi ia adalah wanita yang sudah dengan tabah menerimanya. Nama “Lumimuut” melambangkan satu keagungan, kekuatan dan ketabahan. Ia telah melakukan suatu karya, karena telah mengikuti takdir sejati, ia telah menyelesaikan tugas penting dunia menyelamatkan keluarganya, negara serta kaisarnya dan diri sendiri hukuman para dewa.

Perempuan tua tadi akan disebut namanya Karare Ni Ama (akan ada yang menyebut Karema, dan yag lain Kadema). Ada salah satu diantara nama ini yang dipakai Lumimuut untuk menyebut nama orang tua itu.
Katereniama artinya orang yang mendahului, terdahulu atau yang lebih awal dari Ayah mula-mula. Bukankah Toar akan menjadi seorang Ayah ? dan Lumimuut adalah Ibu yang menyusui anak-anaknya. Tapi Karema adalah orang tua yang mendahului. Ketere artinya pertama, permulaan (mula-mula) awal atau sebelum yang lain, Ama artinya Ayah. Maksudnya orang tua yang lebih dahulu dari Toar sebagai Ayah dari anak-anaknya. Lawan kata dari Ama: Ina.

Lumimuut telah melupakan sumpahnya setelah belasan bulan kemudian yang lahir dari kandungannya adalah seorang anak laki-laki, menurut Karema pada hari sebelumnya berarti seluruh perintahnya. Ketika di lahirkan, anak Lumimuut belum langsung dinamai sebagaimana keinginan seorang ibu pada anaknya, alasannya karena mereka harus lebih dahulu menunggu petunjuk dewa melalui pertanda untuk nama Bayinya.

Usainya Suatu Drama : Dunia Dalam Mitos Minahasa

Putri dan pemuda itu dengan singkat telah menjalin hubungan baik, bahkan selanjutnya putri telah meminta kepada ayanya untuk selalu mendapat pengawalan kepada pasukan tersebut untuk belajar berburu. Dan hampir di setiap saat putri berusaha mencari waktu senggang berpergian ke taman berburu yang letaknya berada di sisi selatan kawasan istana.

Di sana pemuda merasa aneh tak menemukan keceriahan di bajah putri, tak seperti yang selalu ia lihat saat-saat di istana, putri akan selalu ceriah dan cengkrama dengan ayah ibunya dan peghuni lain. Karena di hadapan ayahnya, putri musti berpura-pura yang sebenarnya itu hanyalah karena ia sedang melakoni peran untuk menyelamatkan rencananya dan diri sendiri bahaya sedang mengancam. Atau karena agar ia tak salah tingkah saja dengan rencana keji ayahnya, Ia terpaksa harus berlaku seolah tak ada yang terjadi, dengan cara ini berarti akan meluangkan kesempatan yang tepat untuk mengelak dari apa yang akan terjadi.
Disini wajah putri nampak tergambar kusut dan selalu merenung tanpa dibuat-buat. Pemuda itu lantas mengeri, bahwa ada satu persoalan pelik yang merundung junjungannya.

Lebih khusus dari hubungan biasa oleh saling pendekatan, tabir persoalan yang sering membuat putri merenungi nasib, kepada pemuda bukan lagi sebuah rahasia. Pemuda merasa iba dan menerima tuturan kisah pedih itu dengan hati lapang dan penuh pengertian. Kini tak ada lagi batas istilah hubungan antara majikan dan bawahan, bukan saja hanya terbatas dengan apa yang disebut sahabat, tapi lebih dari itu. Telah diterobosnya kini pilar dua tradisi cinta yang patut dimiliki dalam jalinan dua insan manusia. Biduk telah berlabuh di bawah peradapan langit budaya yang berbeda. Bahwa sendirinya mereka telah merobek dua lapisan tirai keangkuhan. Disana telah diterngunya alam fantasi yang bukan dongeng, tapi juga telah begitu bagusnya berdua sudah menyusun menara tabir penutup yang dapat menyimpan hal yang tak perlu diketahui oleh siapapun.

Dihadapan ayah ibunya, ulah putri selalu berlagak biasa seperti orang yang tak pernah mengalami perubahan apa-apa dengan jiwa dan prilakunya, dengan hati yang sebenarnya dipenuhi satu harapan yang berbunga-bunga, namun berada di bawah tindihan rasa kuatir tentang apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya. Penglihatan mataharipun, tak pernah buran oleh mendung dan kresekan daun-daun hutan saksi yang tak pernah bicara. Sedang kemanisan yang direnggutnya adalah noda pemerah dari buah jalinan itu.

Sebenarnya bukan Putri yang mendapatkan setiap binatang buruannya, melainkan ini hanya dilakukan oleh Pemuda. Tapi sebaliknya dengan rasa bangga dan penuh percaya Baginda menerima penuturan yang tak sesungguhnya itu dari sang Pemuda. Penuturan Pemuda itu maksudnya hanya untuk mengikuti keinginan sang Putri. Di hadapan Baginda, ia selalu berdusta membanggakan binatang buruan itu hasil dari jerih payah Putri sendiri. Kebohongan itu dijadikan alat yang akan mendukung apa yang sebenarnya ingin dicapai.
Beberapa purnama telah berlalu, jalinan mereka telah melalui puncak yang lebih dari biasanya, hatinya yang padu telah menyatu bagai madu dan sepah. Indah, penuh dengan bayangan fatamorgana yang menjelma nyata. Bukan hanya terarus ilusi yang melangit, tapi merekapun seolah melupakan hari yang tersisa di saat waktu itu, karena bagi Putri hari tiu yang akan terakhir kali mereka bermadu di hutan kawasan selatan ini.
Tiba saatnya putri harus mengakhiri pentas drama yang telah ia buka melalui suatu pengorbanan dan improfisasi yang lahir dari rencananya, yaitu bagian utama tentang apa yang akan menghalangi kejahatan yang bakal diperbuat ayahnya. Walau matanya harus memerah nanar membayangkan resiko yang pasti menimpa dan memisahkan mereka. Tapi ia takkan perduli, yang penting ia harus berhasil menggagalkan perkawinanya, gegap gempita hutan belantara seolah turut bersorak pula, dan mengangkatnya kelangit kemenangan. Ia akan pulang dengan secuil kisah romans yang walau singkat. Tragedi ini akan menjadi akhir dari semua sihir kepahitan yang dialaminya di dunia. Sampai disinilah kini peluang kesempatan yang ia telah manfaatkan selama itu, sekalipun matahari akan membakarnya, tetapi ia akan pasti melangkah dengan sukses mencapai bintang yang kini merangkulnya.

Hari kian gelap, bulan yang bakal purnama mulai terbit gemilang, tapi selarut ini luming belum juga nampak. Penantian ayah bundanya, telah membangkitkan rasa gelisah dan curiga. Ketika tak tertahan lagi, Baginda menyampaikan perintah agar segera mencari dimana luming putrinya itu kini berada, bahwa yang akan terjadi tepat seperti apa yang diperkirakan putri dari akhir rencananya. Kecurigaan Baginda terhadap Kepala Pengawal Istana yang bersama putri hari itu, dapat berarti bencana yang akan menyeretnya ke altar penghukuman.

Ternyata berdua kedapatan sedang bermadu kasih, laporan kepada Baginda ini spontan membangkitkan amarah yang hampir membelah bumi. Ketika putri mengatakan tentang apa adanya yang sebenarnya terjadi, disaat itu juga Baginda dengan sangat berang mengambil catatan istana, lalu merobek. Ia telah dengan sengaja melenyapkan sejarah keluarga istana yang mencatat nama putri agar aib putri tak terbawa malu di hari kemudian. Putri dianggap yang telah merusak masa depan sendiri, yang paling utama ia sudah menghancurkan rancangan yang telah dimatangkan dan tersusun rapih. Naluri Baginda sebagai Ayah, sirna sama sekali seketika itu juga, kemarahan yang memuncak telah menyebabkan bencana bagi anak dara dagingnya. “Nama Lu Ming“ yang dihapus dari Sejarah keluarga Istana bagai menyobek baju usang yang tak terpakai lagi. bagai ayahnya, Putri kini tak lagi terbilang dalam hitungan keluarga yang dihormati rakyat. Atas kejadian itu Baginda merasa tercoreng digores oleh perbuatan cemar yang dianggap akan mempermalukan harga dirinya sebagai kelurga dekat Kaisar dan prifacinya sebagai Raja Muda.

Putri gagal dijadikan tumbal perjuangan yang naif. Ia dituduh telah menempuh jalan simpang yang cemooh, karena pada tubunya telah terkandung janin pemuda yang menjadi bukti penghianatan terhadap rencana besar raja, ayahnya.

Sebelum peristiwa yang mempermalukan nilai dirinya ini telah di ketahui oleh orang banyak, Baginda segera saja langsung menjatuhkan hukuman pancung pada malam itu juga. Berbeda dengan permaisuri, sebagai
ibu sejati yang justru tidak menyangka mendengar putri yang ditimpali hukuman seberat itu, berkali-kali pingsan, ia terhentak untuk tidak membiarkan putrinya tewas oleh tangan ayahnya sendiri, terutama mengetahui ada janin di luar perkawinan yang sedang tumbuh dalam kandungan.

Sekurangnya permisuri terus saja menawarkan kelangsungan hidup anaknya kepada suaminya untuk tidak sekejam itu. Ternyata daya upaya didetik-detik terakhir sangat menentukan nasib kelangsungan anaknya: Baginda di minta dengan paksa untuk membiarkan putri tetap hidup, Raja diancam kematian permaisuri bila hukuman putrinya tidak diubah. Akhirnya hukuman didiperingan, tapi status sebagai lenyap dari lingkaran keluarga istana. Ia harus tetap menjalankan hukuman dan dinyatakan akan dikucilkan dalam pembuangan, ia harus mempertahankan hidupnya dan mengurus dirinya sendiri tanpa campur tangan Orang tuanya, tak ada lagi ikatan sekecil apapun yang dapat menghubungkan Putri dengan keluarganya.

Hukuman pembuangan itu adalah menghanyuttkan Putri ke Sungai Hoang Ho dengan Rakit. Seperti apapun bentuk “Keringanan” hukuman ini tetapi telah cukup melegahkan hati seorang ibu, dari pada melihat anaknya terpancung dan berhambur darah di depan mata mereka. Setidaknyaada harapan bagi Putri untuk dapat melanjutkan hidupnya di lain tempat. Ia yakin bahwa roh-roh leluhurnya akan senantiasa melindungi dan menyelamatkan anaknya, mungkin hingga tiba disuatu kawasan lain tapi tak harus buruk seperti keadaan sekarang. Ibundanya hampir tak kuatir, sangat dipercayainya bahwa akan ada satu kekuatan yang akan membimbing dan menyelamatkan Putri dari kemungkinan-kemungkinan bahaya lain, barangkali akan menghantarkan ke satu lingkugan yang dapat menerima setelah dikucilkan dari istananya sendiri.

Setelah berada di tepian sungai, para pengawal melepas pasung hukuman yang membelenggu tubuh Luming, seterusnya ia dinaikkan di atas rakit yang dilengkapi dengan berbagai perbekalan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Antara sadar dan tidak, Luming sempat mendegar samr isak tangis sejumlah orang yang mengiringi kepergiannya, ia terasa amat masa bodoh saja untuk dapat memperhatikan siapa yang mengantar malam itu, mungkin kehadiran ibunya pun tak sempat mengusik ingatan, karena guncangan penderitaan ini telah merumitkan jiwa dan menggores luka batinnya. Sebenarnya dengan usia yang masih sangat belia, ia tak harus mengatasi persoalannya sendiri yang sudah sangat memeras pikirannya secara terus menerus tanpa henti selama itu, yang akhirnya kini ia harus dibuang terpisahkan dengan orang-orang yang dikasihi. Tepatnya ia lebih cenderung menerima hukuman pancung, tetapi ia harus menghormati ketulusan keinginan seorang wanita yang pernah merangkul maut melahirkannya kedunia.

Dalam mimpi buruknya, merasa dia bukan makhluk yang diciptakan untuk bumi, ia menginginkan kematian itu terjadi untuk melihat alam lain yang mungkin seperti khayangan yang menghargai cinta. Tiada akan seorangpun yang sudah membicarakan hal Putri dan semua peristiwa yang telah terjadi pada malam yang dapat disebut pesta kemalangan.Yang mengetahui, sendirinya merasa sangat terancam, justru dikejar ketakutan karena mengetahui persis apa akibatnya. Baginda bertitah, peristiwa itu dilupakan saja, maksudnya demi menjaga reputasi baik kerajaan di hadapan Kaisar dan semua orang.

Bagi Pemuda Mongol yang dituduh  telah mencemarkan nama baik seorang Putri dan nama kerajaan. Cinta yang telah menghanyutkan  ke pedalaman  belantara, mempunyai nilai yang amat penting artinya bagi dirinya.Ia tak dapat merubah kondisi keadaannya jadi lebih baik bila menjadi pengecut menghianati Putri hanya karena ia ingin mengelak dari peristiwa yang menyebabkan ia disiksa dan menanggung penderitaan berat. Dan akhirnya oleh pertahanannya membelah putri dengan cintanya, bagian-bagian tubuhnya diancam akan disajikan kepada binatang-binatang buas peliharaan.

Tapi menurut cerita (kelak dalam mitos versi 2) orang lain bahwa pemuda ini nyawanya sempat ditolong dan lolos dari ancaman maut baginda.menurut cerita misteri itu, sang pemuda telah ditolong oleh seOrang tua yang berilmu sangat tinggi. Luming akhirnya kembali bertemu dengan pemuda dan melanjutkan lagi hubungan mereka dan melahirkan anak-anaknya ditempat hutan belantara Malesung yang terasing. Dunia baru penuh damai dan cinta. Menurut kisah pemuda ini bernama Tong Ha, yang kemudian namanya disebut Toar.
Bahwa sang  pemberani Mongol ini sebenarnya telah menjadi sumber dua inspirasi kekuatan besar; antara kesucian dan keburukan. Mengilhami dua perang besar antara baik dan jahat, namun ia telah menjadi Maestro kebaikan. Iapun telah menjadi aktor terbaik, walau namanya tidak dikenal di Negeri Tiongwan, negeri para dewa, tapi diketahui telah sangat menjiwai perannya melewati  hari-hari yang buruk.
Luming, adalah pelaku peran “Putri” sebagai tokoh utama dalam Tragedi yang penuh dengan intrik, keserakahan serta pengorbanan dan

adengan yang punya romantisme. Ia telah meninggalkan kota sorga penuh bunga-bunga indah yang telah ditumbuhi duri, dan yang telah melenyapkannya dari langkah sejarah  dinegerinya. Di kota inilah segala berakhir, bukan ke nirwana seperti yang telah  ia gambarkan menjelang kematian,tapi ia kini telah beranjak pegi kesuatu dunia yang akan mengawali langkahnya membuka lembaran baru sejarahnya. Banyak yang akan nampak terjadi disana, bukan arus penderitaan yang seterusnya akan dialami, tapi akan banyak pula kebahagiaan panjang yang kelak menghiasi hidupnya. Ia akan menjadi bintang yang bukan lagi terciptanya oleh sebuah kisah panggung. Ini adalah sebuah realiti, yang bukan pula lair dari sebuah batu karang.
Seluruh tragedi kisah yang terjadi itu, kini sudah berakhir dengan prosesi drama walau dengan cara yang amat menyedihkan.

Dari Tragedi Karema dan Lumimuut : Dunia Dalam Mitos Minahasa

Serangan-serangan bangsa bar-bar terhadap Negeri Tiongwan, termasuk bangsa Mongoli, merupakan gangguan yang selalu mengalami kegagalan, tak sedikit jadi korban oleh permusuhan yang sudah benjalan selama berabad-abad. Terlebih karena pertahanan Kawasan Tiongwan telah diperkokoh oleh negeri-negeri perbatasan (sebelum atau cikal bakal adanya tembok (China), yang oleh gangguan dari luar tersebutlah yang membuat kaisar dari dinasti pendahulu melahirkan para pemimpin perbatasan yang menyandang gelar Raja Muda. Penjaga perbatasan ini adalah negeri-negeri pertahanan yang wajib melindungi ibukota tempat kedudukan kaisar dan pemerintah pusat. Mereka selalu diangkat dari salah seorang yang berasal dari kelompok keluarga, kelompok kerabat, pegawai atau orang-orang ahli terpilih kepercayaan dari yang terbaik. Namun mereka diikat undang-undang dan mutlak sepenuhnya berada berada di bawah kendali kaisar. Berdirinya negeri-negeri pertahanan tersebut telah melalui perjalanan beberapa tahap masa pergantian dinasti kekaisaran. Berarti rakyat tongwan secara turun-temurun telah mengalami sejarah berbagai liku cara dan bentuk kepemimpinan yang berbeda-beda.

Mongol bersikap keras ingin menaklukan Tiongwan di bawah tangan kekuasaananya. Namun lawan dengan kekuatan bala tentaranya dalam jumlah besar, membuat utusan-utusan perang Mongol selalu saja mengalami kegagalan.

Pada suatu masa, orang-orang Mongol mulai menyusupkan beberapa dari para pemberaninya ke negeri-negeri perbatasan Tiongwan. Yang kedapatan, akan tewas dengan hukuman pancung atau disiksa.
Maka dari panggung peristiwa perjungan Mongol yang gagal inilah mulai berawalnya sebuah kisah penting. Mengangkat kisah seorang Wanita Tua yang dipenuhi teked mencari anak bungsunya yang tak diketahui nasibnya di derah musuh, sebelumnya iapun sudah kehilangan anak-anak lainya yang tadi menyusup dan tewas di kota ini. Kini tinggal dia seorang saja yang masih hidup tapi tak ada kabar beritanya sejak berhari-hari lalu kepergiannya. Iapun mengikuti jejak saudaranya yang lain sebagai pejuang yang disusupkan  ke daerah pertahanan lawan. Akibatnya selalu saja mengalami kegagalan dan merekapun tewas.
Agar mendapatkan kepastian, Orang tua itu menerobos daerah musuh dengan penyamaran yang untuk menyelidik fakta keberadaan sang bungsu. Tetapi kemudian yang diketahuinya bahwa ternyata hukuman pacung telah mengakhiri sang anak, harapan yang sangat  dikasihinya mungkin bersama sejumlah lain pengikutnya.

Ia sangat merasakan kesengsaraan waktu ia kehilangan seluruh anak-anaknya, tapi yang lebih parah menggelisahkan lagi cucu satu-satunya yang menjadi tumpuan kasih sayangnya, kebetulan diketahuinya muncul di tempat ini pada saat sementara ia baru saja dirundung duka dan kesedihan yang amat sangat. Ternyata cucunya iikut pula memasuki kancah bahaya menjadi penyusup sebagai seorang mata-mata, tapi ia kemudian akhirnya tertangkap juga sekalipun penyamarannya nyaris disempurnakan oleh keahliannya berbahasa Tiongwan. Sebenarnya pemuda kesatria Mongol yang dimaksud adalah cucu Wanita Tua ini, dialah yang ditumpukan harapan yang terakhir penerus generasinya setelah semuanya berakhir.
Dia bertumbuh sebagai pemuda yang cerdas dan pemberani melebihi ayahnya sendiri, tadi yang ayahnya tewas. Waktu sebelumnya pemuda tersebut tak diperbolehkan menempuh bahaya dalam usianya yang dianggap belum berpengalaman saat ketika itu ia ingin mengikuti ayahnya ke perbatasan. Mungkin ayahnya yang diketahuinya tewas, atau semata-mata karena ingin balas dendam, maka tak ada yang dapat mengurung kepergiannya apa saja pengalaman yang ingin dituangkan.

Dengan rasa kuatir, disana wanita Mongol tadi tak lagi mungkin mencegah. Tapi secara diam-diam diikutinya terus sepak terjang cucunya, tak diketahuinya bakal peristiwa yang akan terjadi selanjutnya. Namun kemudian ia lega ketika itu karena ternyata cucunya tak ditimpali hukuman mati. Bahkan sebaliknya, walau tak dapat ia mengerti, pemudanya itu nampak bebas saja berada diistana musuh. Justru raja (ayah Lumimuut) inilah yang telah menghukum tewas ayah dari pemuda ini bersama sejumlah  yang lain.

Wanita tadi terus mencari inti penyebab dari keadaan yang janggal itu, yang kesimpulannya bahwa rupa-rupanya diantara kelompok satu dengan pihak lainnya telah menjadi suatu kesepakatan yang sama dan sejalan. Di sisi lain tentu ada rasa bangga tersendiri melihat tindakan cucunya yang dianggap berhasil dengan penyamaran. Oleh pemudanya itu, penyebab Wanita Tua itu tetap tinggal di kota kecil ini. Iapun terus berharap kepada roh-roh leluhurnya, agar dapat melindungi sang maestronya dari angkara yang karena seolah ia berada ditanah tempat pemusnahan mata rantai keturunanya.

Oleh keahliannya berbahasa disertai kesaktian tinggi ilmu pedangnya, membuat Wanita Tua dan keberaniannya selalu dapat berdalih dari incaran kecurigaan, orang. Ia tinggal di pinggiran perkampungan kecil tanpa diketahui cucunya, diam-diam pemuda  itu, terus diincarnya  secara saksama, selain disamping karena sambil mencari gelagat dari tindak tanduknya, ia ingin mencari kesempatan untuk membujuknya meninggalkan tempat yang jelas akan mengancam keturunannya  dalam bahaya. Tapi oleh pengawalan, ia tak mudah bersua dengan cucunya.

Selama itu ia berperan sebagai pengemis renta. Tak satupun yang mempedulikannya bahwa ia adalah seorang dari pihak musuh. Namun kini bukan lagi membawa misi untuk kepentingan bangsanya Mongol,
upayanya yang tengah ia lakukan sekarang adalah untuk menyelamatkan cucunya, sekaligus untuk menyelamatkan populasinya dari kepunahan. Kalau mungkin dikehendaki  oleh para dewa, pemuda ini adalah sosok keturunannya  yang paling akhir ditumpukan seluruh harapannya. Dan dia sedang berada di tanduk bahaya.

Terasa ia akan dikutuk bila sengaja kehilangan yang bakal kelangsungan  generasinya. Inilah salah satu penyebab ia terus berupaya keras mempertahankan kelangsungan generasinya. Inilah salah satu penyebab ia terus bertahan diperbatasan itu apapun saatnya yang akan terjadi pada cucunya. Betapa dia mengharapkan, bila mungkin, ingin menyaksikan sendiri ruas baru generasinya bertumbuh, berlangsung dan berkembang biak. Harapannya memang tak pernah istirahat mengangankan mata rantai baru yang berakar dari rahimnya yang akan nanti seperti rumbai manik-manik menghiasi bumi. Akan hal ini, selalu ingatan kepada yang Maha Pencipta, seolah di setiap detak nafasnya memohon agar kelanjutan itu dapat terkabul sukses Melindungi keturunannya dari  malapetaka  kepenuhan.

Beberapa hari setelah kesepakatan itu terjadi, sang Putri mulai resah juga tak dapat memikirkan segala sesuatunya dengan baik. Ia hampir-hampir tak yakin dapat mencapai jalan keluar tepat yang dapat menggagalkan perkawinan ini. Putri mulai diterpa  hembusan rasa ragu, ibundanya, seperti turut merasakan dari dalam batinnya, bahwa ada satu bendungan hati yang bergejolak sedang terjadi pada diri anaknya. Sebagai seorang ibu ia memang telah berjuang, walau tak berlebihan, tapi tetap menyarankan Baginda untuk kiranya dapat mengurung niat buruk itu terhadap anak mereka. Akan tetapi dari sisi lain ada semacam perasaan dari batinnya yang mengfirasati keselamatan Putri dari itu. Nampak akan ada suatu bahaya besar bagi keselamatan putri jika ia mendesak suaminya untuk membatalkan keinginan yang sangat mengecam keselamatan anak mereka.
Permasuri merenungkan bagaiman bila “Putri tak menghendaki pilihan Baginda?, tapi dia tak dapat bertindak lebih dari hanya terpaksa bisa pasrah dibawah kuasa ambisi suaminya. Namun kendati pada setiap kesempatan, ia selalu berusaha menyadarkan raja untuk tidak semudah itu mengorbankan anak satu-satunya kepada orang yang kepribadiannya antagonis dan tak bermoral, itukah calon pendamping  hidup sang putri? Sungguh malang memang, sedemikian menyedihkan kedua wanita ini ditekan oleh keadaan dankenyataan yang memahatnya dalam kepahitan hati. Haruskah mereka pasrah? Yang hanya diperjuangkannya saat-saat berjalan ini adalah menahan diri dengan perasaan batin masing-masing

Ibunya tak pernah  mengatakan persoalan  rencana baginda raja kepada Putri, karena ia bermaksud mencegah bahaya yang dapat menimpa dengan mudahnya apabila diketahui Baginda akan  kebocoran rahasia  kebocoran itu kepada anaknya. Kedua wanita itu terpaksa tak saling terbuka oleh kondisi keadaan itu sendiri. Putri dan permaisuri sadar bila saja tak hati-hati, sendirinya baginda akan lebih memperburuk suasana mereka, dan sebaliknya akan mengikat, terutama putri ke dalam suasana yang lebih berbahaya jika rencana raja merasa dihalangi.
Walau waktu perkawinan masih tersedia luang dalam jangka waktu beberapa purnama, namun putri belum mendapat jalan keluar yang pasti. Tapi pada saat itu, kemudian seorang pemuda yang tiba-tiba hadir di hadapanya telah menimbulkan gagasan curang yang lebih baik daripada perkawinan yang akan dihadapinya. Ia terpananah deengan pemudah gagah dan pemberani, mengilhami pikiranya yang tadi telah mengalami kebuntuan, agar dirinya bisa beroleh sesuatu yang dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya apapun menyangkut “bagaimana cara menggagalkan penghianatan ayahnya terhadap kaisarnya“.

Pemuda itu adalah cucu dari perempuan Tua tadi, yang kini ia telah menjabat salah satu urusan kedinasan istana. Yang pasti tapi sangat rahasia, bahwa pemuda Mongol ini sengaja diangkat mengepalai satu pasukan inti dari ujung tombak rencana penyergapan terhadap paduka Kaisar. Kaisar akan menghadiri hari pernikahan putri yang sekaligus dikenakan dengan perayaan  “Hari Dewa“ dimana suatu perayaan hari dewa tersebut telah mendapat ketentuan Kaisar atau telah di tunjuk kaisar “giliran dilakukan di kota ini“ Bukan nanti masalah perkawinan Putri menjadi mutlak kehadiran Kaisar, tapi karena Baginda akan selalu pantas menghadiri yang berupa acara sakral seperti ini. Pada waktu-waktu tertentu, perayan pada setiap tahunya secara bergiliran akan di pusatkan disalah satu daerah sebagaimana kaisar dan masyarakat Tiongwan yang religius menyakini dewa-dewa atau roh-roh leluhur warisan nenek moyangnya.

Beberapa diantara pegawai terentu dan orang penting lainya, mengenai kehadiran sang pemuda, merupakan orang misteri yang tidak di ketahui asal-usulnya, terheran karena secara tiba-tiba saja, ia langsung di angkat setaraf dengan petinggi lain. Pada pokoknya ada hal tersembunyi dari rencana pemberontakan itu tak perlu diketahuim sekalipun pegawai utama istana.

Purti dan permaisuri sama sekali tak mengetahui apa maksud kehadiran pemuda itu, sekalian ia sedang melakoni bagian penting peran “sandiwara pemberontakan“ yang akan terjadi nanti. Kebetulan oleh
keahlian berbahasa Tiongwan mendukung pemuda itu nyaris tidak pernah mengundang kecurigaan siapapun. Selain karena ia memang aktor yang akan menjiwai peranya dengan baik dipihak raja sebelum putri hadir dalam cintanya.

Tadinya oleh raja ia harus dihukum pancung seperi tawanan-tawanan sebelumnya, tapi kerena kelincahanya berbahasa Tiongwan dan penilaian-penilaian tertentu, menyebabkan ia justru diangkat sebagai Kepala Pengawal Istana oleh raja. Keberanian dan keahlian sang pemuda telah melahirkan ide bagus dalam seluruh rencana “Baginda yang menjadi arsitektur pemberontakan itu“. Ia telah memperhitungkan; akan lebih muda memanfatkan tangan musuh daripada orang dari kalangan sendiri yang sewaktu-waktu dapat berubah pikiran, dan lebih buruk lagi bila balik membelot. Ia yakin bahwa apa yang akan dilakukan sang pemuda, karena terfokus pada peluang keuntungan yang telah ditawrkan itu. Kehadiran cucu Wanita Tua ini bagi raja, akan semakin memperkokoh seluruh kekuatan yang ada.

Dalam kondisi masa-masa tertetu, ironisnya bagi siapapun seorang kaisar, kaisar sering menjadi pusat tujuan pemberontakan Raja-raja Muda. Masyarakat atau orang yang tidak puas. Walau persoalan ini merupakan ujian berat Dinasti Kekaisaran sekarang, namun bagi kedinasan ini belum tentu kalau akhirnya pemerontakan para bawahanya akan sukses.

Peristiwa Di Panggung Tiongwan : Dunia Dalam Mitos Minahasa

Mungkin saja lamaran tersebut tak perlu di tolak, seandainya saja nanti dibalik perkawinan itu tidak dilatar belakangi dengan hal yang keji yang telah bertentangan dengan hatinya. Sebenarnya siapapun yang akan menjadi calon pendamping hidup putri, baginya salah satu haruslah tidak dengan cara sembunyi. Tapi tadinya tanpa diketahui, diam-diam hanya dirinya sendiri, putri telah berdiri di sudut lain ruangan pertemuan istana, menyadap secara rinci “pembicaraan“ rencana yang di dalamnya terkandung bakal bencana negara. Sunggupun ia tak setuju akan hal cilaka itu, tapi tidak perlu hal itu harus mengungkapkan dengan perbantahan, yang penting ia harus mendapatkan cara untuk mengagalkan kerja sama yang buruk itu; antara ayahanda dan raja muda yang dijodohkan denganya “bermaksud mengulingkan tahta kekaisaran yang sah“. Bukanlah keagungan tahta yang pernah melintasi pikiranya, tapi ia menuntut jalanya suatu kebenaran.

Hatinya berontak, awalnya hal ini adalah suatu mimpi buruk, hampir saja tak dapat dibendung apa yang menggilai perasaan itu, bila saja tiba-tiba ia tak disadarkan oleh hal yang bisa mendatangkan bahaya untuk dirinya; bahwa tak harus secepat itu mencetuskan pemberontakan hatinya. Karena jelas cetusanya dapat memperburuk suasana dan dirugikan oleh keadaan yang akan mengundang resiko bagi diri sendiri.
Suka atau tidak, memang ia harus di paksa menerima kehendak ayahandanya. Bersabar tanpa memperlihatkan keanehan, mungkin akan dapat menolongnya kelur dari problem yang kini sudah diperhadapkan. Setidaknya dengan kesabarannya, lebih mungkin dapat mempermudahnya mengatasi masalah peliknya yang akan menghancurkan diri sendiri dan segala sesuatunya.

Dengan memperlihatkan sikap biasa-biasa, pada akhirnya iapun dapat mengatasi dan menjalankan hari-harinya dengan baik, seakan tak pernah ada yang akan terjadi dengan dirinya. Disamping itu ia bisa mencari-cari jalan keluar yang lebih baik, masih beberapa purnama lagi waktu yang tersedia, berarti telah meluangkan kesempatan mencari jalan keluar lebih cemerlang. Bila juga terpaksa, tak ada cara lain yang bisa ditempu, selain menyimpang kearah jalan pendek tanpa harus terbujuk keadaan ataupun oleh pengaruh apapun, sebab tinadakanya hanya nanti karena demi kebaikan semua pihak. Ia akan mencari jalan tempuh yang lebih selamat dan bijaksana, tapi sebaliknya  “tidak“ bila terjadi pemaksaan atau karena kekerasan yang akan menekannya terang-terangan. Mungkin saja dengan demikian ia dapat dengan mudah mengakhiri hidupnya dengan cara menikamkan pedang ketubuhnya.

Disadarinya, bukan cuma dirinya saja yang sedang terancam ujung tombak kematian, tetapi “rencan keji“ itu sendiri makan balik jadi bencana bagi ayah bundanya dan seluruh keluarga istana (kaisar), junjungan yang merupakan perantara atau karena di dunia, sang Maha Baginda dianggap mewakili para dewa, tentu bagi putri perkara itu bukanlah hal sepele, sebab sangat bertentangan dengan naluri religiusnya terhadap keyakinanya adanya otorisasi khayangan. Tentu perbuatan keji ini akan menjadi bahan jelaan dewa-dewa dan akan lebih para lagi dapat mengundang turunya api kutukan dari langit. Ketakutan ini telah mendorong niatnya untuk lebihmemihak pada kaisar. Ia memohon ampun kepada para penghuni khayangan, dan kakan berkorban apa saja untuk menyelamatkan ayahandanya dan keluarga dari kutukan . yang pastiakan ada yang dapat diperbuatnya kalau itu di nirwana . Bahwa di dalan semua ini Ayahanyala yang menjadi paling utama menciptakan skenario pemberontakan. Putri bertekad keras mencegah rencan orang-orang tak bertangung jawab yang akan meruntuhkan masa dinasti yang telah di teguhkan oleh para dewa, ia harus membatalkan perkawinan yang intinya akan mendasari penyelewengan yang menyesatkan ayahnya ke dalam dosa. Hanya ditangannya saja kini diketaui tergantung kelangsungan negara dan nasib segelintir orang yang dicintainya. Mungkinkah karena ujian sedang menimpa dirinya?

Setelah mempertimbangkan pemecahan persoalannya sedemikian jauh, rupanya ia harus menempuh jalan berduri, persoalan ini ternyata mempunyai jawaban sulit dan pekat, tidak segampang perkiraan sebelumya, pikiran dan akalnya hampir terperas namun hanya kedalam jalan buntu dan membentur dirinya hingga ia berpikir untuk inginkan saja kematian mengakhiri segala-galanya. Tapi itu adalah satu jalan paling bodoh dan memalukan.

Harus melakukan pengorbanan, asalkan pengorbanan itu tidak akan tersia-sia. Disadarinya karena mungkin ia sedang menempuh takdir, dan ia akan menjalankan menuruti kehendak langit.

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS